Cover Story Fashion Lifestyle World

Aksi Mempesona 5 Desainer Indonesia Dalam Gelaran Los Angeles Fashon Week Spring/Summer 2017

5-design-indonesia-lafw
Irina Jusuf
Written by Irina Jusuf

Ajang fashion week selalu dinanti para pelaku dan pencinta mode, teristimewanya lagi jika pagelaran tersebut diselenggarakan di kota kiblat entertainmen dunia, Hollywood.  Pagelaran Los Angeles Fashion Week Spring/Summer 2017 (LAFW SS17) baru saja digelar pada 29 September – 2 Oktober 2016. Bertempat di Hollywood Athletic Club, gelaran tersebut diawali dengan opening gala pada tanggal 28 September 2016 malam waktu setempat (29 September pagi waktu Indonesia). Atas prakarsa KJRI Los Angeles, pada musim ketiga penyelenggaraan LAFW ini, Indonesia mendapatkan tempat khusus sebagai Featured Country yang menampilkan koleksi 5 desainer kenamaan Tanah Air: JAJAKA oleh Ivan Gunawan, Oscar Lawalata, PURANA oleh Nonita Respati, Rinda Salmun dan Laison oleh Aurelia Santoso.

Ditemui di sela-sela acara, Oscar menyampaikan harapannya bahwa ajang bergengsi insan fesyen ini dapat menjadi awal untuk memperkenalkan kreatifitas mode Indonesia kepada publik Los Angeles, dan sebaliknya.

Tampil di hari pertama pada 29 September, adalah desainer Indonesia Nonita Respati yang mengeluarkan brand PURANA dengan memamerkan 26 koleksi special bertema “Popsicle Brush” yang terinspirasi dari warna-warni es krim yang cerah ceria. Penggunaan kuas memberikan sentuhan unik pada desain PURANA yang dipamerkan pada malam itu. Motif jumputan pada harem pants, atasan dan terusan dari bahan melambai sangat mengedepankan unsur modern. Kesan ringan namun stylish yang ditampilkan PURANA sangat potensial untuk membidik pasar Los Angeles yang mengutamakan gaya di bawah cerahnya matahari hampir di sepanjang tahun.

Kesuksesan PURANA merupakan hasil kreativitas dan kerja keras Nonita Respati, creative mind yang membidani kelahiran PURANA sejak 2008. Keseluruhan karya PURANA yang telah ditampilkan dalam promosi batik kopi “Explore Indonesia” KJRI Los Angeles senantiasa mendapatkan respon positif dari warga setempat. Alhasil, PURANA mendapat sambutan meriah dan applause panjang dari audience yang hadir.

Sedangkan Rinda Salmun sukses mengusung tema “Wearable Art”, mulai dari koleksi pertama ditampilkan, sudah terdengar ungkap pujian di ruangan runway. Rinda menampilkan kain Indonesia seperti tenun Garut dan songket Palembang dominan warna maroon, hijau, perak dan multi warna. Rinda juga berani memadukan tekstil tradisional tersebut dengan bahan kulit dan bordiran kristal. Potongan garis yang tegas dan asimetris menjadikan koleksi Rinda pada malam itu tampil modern dan stylish. Pilihan Rinda untuk menampilkan tenun Garut berasal dari keinginannya untuk mempromosikan eco-fashion Indonesia di forum internasional. Pengerjaan tenun yang menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) tidak hanya menghasilkan kain yang unik sesuai kreasi pengrajin namun juga ramah lingkungan. Rinda juga berharap bahwa melalui fashion show seperti LAFW, pengrajin tenun Garut semakin dikenal internasional dan mendorong adanya regenerasi.

Berbeda dengan rancangan Aurelia Santoso melalui brand Laison by Aurelias, tampil memukau  dengan hasil inspirasi dari military-look yang diterjemahkan menjadi tampilan gaya fashionable dan modern. Warna-warna yang lekat dengan militer, seperti hijau, abu-abu, hitam, dikemas menjadi satu padanan yang stylish. Beberapa koleksi berwarna monokrom tampil cantik dengan aksen “Military-look”. “Dengan identitas Laison sebagai brand fashion yang modern, kami memadukan unsur-unsur Indonesia menjadi koleksi ready-to-wear yang lebih mudah diterima secara global”, ungkap Aurelia.

Sementara pada tampilan karya Ivan Gunawan pada 1 Oktober, desainer berbakat ini mengusung tema suku dari seri “JAJAKA”, seri ketiga Ivan untuk tahun ini. Terinspirasi oleh berbagai suku yang terdapat di Jawa, Sulawesi dan Kalimantan, Ivan menampilkan semacam patchwork, yaitu penggabungan beberapa macam batik print dalam satu baju. Padanan tersebut dipercantik dengan motif bunga berwarna terang. Untuk pria, Ivan memilih motif-motif yang lebih abstrak. Sebagai show pemuncak, model LAFW memamerkan gaun panjang menyapu lantai yang meggabungkan setidaknya tiga macam motif batik.

Koleksi JAJAKA di runway LAFW SS17 tampil unik dengan aksesoris karya desainer asal Surabaya, Grace Liem. Hiasan kepala yang mengambil inspirasi dari suku Dayak ditampilkan dalam bentuk pompom warna warni. Ivan juga menampilkan alas kaki bermotif Indonesia dari Garut. “LAFW merupakan ajang internasional pertama saya, jadi harapannya dapat membuka koneksi-koneksi baru,” ungkap Ivan.

Pagelaran LAFW kali ini ditutup dengan aksi Oscar Lawalata yang tampil pada tanggal 2 Oktober melalui kemampuannya mengintegrasikan desain ready-to-wear dengan tekstil tradisional Indonesia. Lebih dari 20 koleksi Oscar yang dipamerkan pada malam itu didominasi warna-warni bumi seperti coklat tua, khaki dan hijau muda.

Reversible jacket, padanan jaket yang dapat dipakai pada kedua sisi, luar dan dalam, dengan warna khaki dan merah mengundang reaksi apresiatif hadirin. Sedangkan reprentasi Indonesia tampil melalui sentuhan manis batik pada pinggiran baju yang tak mencolok sebagai dalaman ataupun tali pinggang. Keikutsertaannya kali ini merupakan penjajakan pertama kalinya ke wilayah pantai barat AS. Oscar juga tidak menampik terbukanya kemungkinan untuk menjajaki proyek fashion selanjutnya di Los Angeles.

LAFW SS17 menampilkan 18 orang desainer, baik yang berasal dari Los Angeles maupun internasional. Menurut Arthur Chipman, Executive Producer LAFW, Los Angeles telah memposisikan diri sebagai salah satu kota kreatif terkemuka di AS. Dan untuk pagelaran kali ini, LAFW telah mengkurasi bakat-bakat di bidang fesyen, termasuk kelima desainer Indonesia, yang diharapkan memberikan beragam pilihan untuk mode fesyen kota ini, sekaligus menciptakan pasar yang lebih besar di California.  (By: Irina/dok KJRILA)

About the author

Irina Jusuf

Irina Jusuf